Ternate — istanafm.com. Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Maluku Utara bekerja sama dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Serba Usaha menggelar pelatihan kompetensi bagi penyandang disabilitas di Kelurahan Kalumpang, Kota Ternate.
Pelatihan yang berlangsung sejak 13 April 2026 hingga 16 April itu diikuti 10 peserta dari kelompok rentan, termasuk difabel fisik, penyandang bisu tuli, serta orang yang pernah mengalami kusta (OPMK). Kegiatan ini merupakan bagian dari program peningkatan produktivitas tenaga kerja berbasis inklusi.
Mentor pelatihan, Nurjannah, mengatakan pelatihan difokuskan pada keterampilan dasar menjahit, mulai dari pengukuran hingga pembuatan pola.
“Kami dipercaya untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat rentan agar bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja maupun menjadi tenaga kerja mandiri,” kata Nurjannah saat ditemui di lokasi pelatihan, Selasa, 14 April 2026.
Pelatihan ini berlangsung selama lima hari. Menurut Nurjannah, durasi tersebut belum cukup untuk membentuk keterampilan yang matang, terutama untuk bidang menjahit yang membutuhkan waktu lebih panjang.
“Untuk tingkat dasar saja biasanya butuh minimal tiga bulan. Tapi dalam waktu singkat ini kami berusaha maksimal agar peserta bisa langsung mempraktikkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterampilan yang diberikan diharapkan bisa langsung dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya jasa perbaikan pakaian sederhana yang memiliki peluang pasar di masyarakat.
Namun, Nurjannah menilai pelatihan semacam ini perlu didukung dengan program lanjutan agar benar-benar menghasilkan sumber daya manusia yang terampil.
“Kalau ingin menciptakan SDM unggul, pelatihan harus dilakukan secara total. Ini juga aset daerah, karena kita belum punya industri besar,” kata dia.
Salah satu peserta, Nisma Taher, mengaku pelatihan tersebut memberi ruang bagi kelompok yang selama ini menghadapi stigma sosial.
“Dengan keterbatasan kami, ini sangat membantu. Kami jadi lebih produktif dan bisa membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.
Nisma, yang pernah mengalami kusta, mengatakan pelatihan ini juga memberi dorongan mental untuk keluar dari rasa minder akibat stigma masyarakat.
Ia berharap pemerintah memperpanjang durasi pelatihan serta menyediakan dukungan lanjutan seperti bantuan alat kerja.
“Kalau waktunya lebih lama dan ada pelatihan lanjutan, kami bisa lebih berkembang,” kata dia.
Peserta lainnya, Julaeha Abdullah, menilai keberlanjutan program menjadi kunci keberhasilan pelatihan.
Menurut dia, tanpa dukungan alat dan pendampingan, keterampilan yang sudah diperoleh berpotensi tidak berkembang.
“Kalau tidak ada alat pendukung, peserta bisa kembali ke kondisi semula. Padahal mereka sudah punya keterampilan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya menggelar pelatihan, tetapi juga melakukan pemantauan dan pendampingan hingga peserta benar-benar mandiri.
“Harus ada monitoring berkelanjutan, supaya mereka bisa berkembang dan bahkan membantu teman-teman disabilitas lainnya,” kata Julaeha. (Rifal)