Ternate – istanafm.com. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Ternate bersama Lembaga Pelatihan Kursus (LPK) Ranny menggelar kursus kecantikan bagi perempuan penyintas kekerasan. Pelatihan tersebut ditujukan untuk membekali peserta dengan keterampilan yang dapat menunjang kemandirian ekonomi.
Kegiatan yang berlangsung di LPK Ranny itu melibatkan perempuan penyintas kekerasan serta kelompok penyandang disabilitas. Peserta diberikan pelatihan keterampilan di bidang kecantikan yang diharapkan dapat diterapkan sebagai usaha untuk menambah pendapatan.
Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Anak DP3A Kota Ternate, Fitriah Buamona, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari layanan spesifik DP3A bagi perempuan korban kekerasan. Menurut dia, layanan terhadap korban tidak hanya berupa pendampingan, tetapi juga upaya pemulihan dari trauma serta penguatan kapasitas ekonomi.
“Selain pendampingan terhadap korban kekerasan, ini salah satunya layanan spesifik untuk memulihkan psikis atau trauma yang selama ini mereka alami akibat kekerasan,” kata Fitriah kepada Istana FM, Kamis, 10 September 2026.
Baca juga: Pemprov Malut Kaji Regulasi Hibah Rumah Ibadah
Fitriah mengatakan persoalan ekonomi keluarga menjadi salah satu masalah yang kerap dihadapi perempuan korban kekerasan. Sebagian di antaranya tidak memiliki pekerjaan tetap dan harus memenuhi kebutuhan diri maupun anak ketika pasangan tidak memberikan nafkah.
Karena itu, kata dia, DP3A memilih pelatihan keterampilan sebagai salah satu bentuk pemberdayaan. Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi diharapkan memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja atau membuka usaha sendiri.
“Selama ini layanan spesifik kadang kami berikan berupa barang sesuai kebutuhan, misalnya obat-obatan. Tapi kami melihat banyak persoalan yang timbul akibat masalah ekonomi keluarga,” ujarnya.
Menurut Fitriah, pelatihan kecantikan tersebut telah dilaksanakan untuk kedua kalinya. Pada pelaksanaan sebelumnya, sekitar 12 orang mengikuti pelatihan, termasuk beberapa pendamping. Pada tahun ini, jumlah peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak sembilan orang, termasuk peserta penyandang disabilitas.
Pelatihan ditargetkan berlangsung selama sekitar satu pekan. Namun, durasi tersebut dapat disesuaikan dengan kemampuan peserta dalam memahami materi yang diberikan. Peserta juga akan mendapatkan paket kecantikan setelah menyelesaikan pelatihan sebagai bagian dari motivasi agar keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan.
“Harapannya apa yang diberikan ini bisa dipahami betul dan nantinya bisa diterapkan. Mereka bisa menghasilkan sesuatu dari keterampilan ini untuk orang lain,” kata Fitriah.
Pimpinan LPK Ranny, Ketty Hi Kala, mengatakan keterampilan di bidang kecantikan memiliki peluang kerja, termasuk di luar negeri. Dia menyebut pernah ada permintaan tenaga kerja dari Arab Saudi melalui Kementerian Ketenagakerjaan.
Menurut Ketty, kebutuhan tenaga kerja di bidang kecantikan tidak hanya untuk perempuan. Sejumlah negara juga membutuhkan tenaga stylist yang memiliki keterampilan khusus, termasuk penataan rambut.
“Kalau tangan terampil, selesai sudah urusan. Orang yang cari torang (kami). Itu kuncinya,” kata Ketty.
Baca juga: Bahasa Tidore Masih Tercatat sebagai Dialek Ternate
Dia berharap peserta mengikuti pelatihan dengan serius sehingga keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk bekerja maupun membuka usaha. Ketty menilai keterampilan praktis dapat menjadi modal bagi perempuan untuk meningkatkan penghasilan dan membantu perekonomian keluarga.
Fitriah menambahkan tujuan utama kegiatan tersebut adalah pemberdayaan. Perempuan penyintas kekerasan diharapkan tidak hanya mendapatkan pendampingan dalam menghadapi dampak kekerasan, tetapi juga memiliki kepercayaan diri dan kemampuan untuk mandiri secara ekonomi. (Rifal)