Ternate — istanafm.com. Kondisi masyarakat di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, masih terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang terjadi pada Kamis pagi, 2 April 2026. Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah mencatat 46 rumah rusak berat, 42 rumah rusak ringan, serta lima gedung gereja mengalami kerusakan sedang hingga berat di enam kelurahan.
Ketua Klasis GPM Ternate, Pendeta Esrom Lakoruhut, mengatakan guncangan gempa dirasakan sangat kuat oleh warga di Pulau Batang Dua dan menimbulkan kerusakan pada permukiman serta rumah ibadah.
“Guncangan sangat hebat dan berdampak pada rumah warga, termasuk gereja-gereja di Kecamatan Batang Dua,” kata Esrom saat dikonfirmasi, Jumat, 3 April 2026.
Ia menjelaskan, pihak gereja langsung berkoordinasi dengan para pendeta di Jemaat GPM Mayau dan Jemaat GPM Tifure sejak gempa terjadi. Tim relawan gereja juga disiagakan untuk membantu evakuasi warga ke titik aman.
Menurut dia, sebagian warga melakukan evakuasi mandiri, sementara lainnya dibantu relawan gereja yang telah memiliki pengalaman mitigasi bencana. Di Mayau, terdapat enam titik evakuasi yang telah digunakan warga, sedangkan di Tifure warga mengungsi di beberapa lokasi, termasuk di sekitar area PLN.
“Relawan kami membantu mengarahkan evakuasi. Masyarakat juga sudah cukup terlatih menghadapi situasi seperti ini,” ujarnya.
Esrom menyebutkan, sejumlah rumah dilaporkan ambruk. Untuk bangunan gereja, gedung lama di Mayau masih dapat digunakan, namun gereja baru yang direncanakan diresmikan pada September 2026 mengalami kerusakan cukup parah, terutama pada bagian menara dan interior.
Sementara itu, gereja di Tifure mengalami kerusakan pada bagian belakang bangunan. Hingga kini, tidak ada laporan korban jiwa.
Meski kondisi mulai berangsur aman, warga masih bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir gempa susulan. Bahkan, gempa berkekuatan lebih kecil masih dirasakan pada Jumat pagi.
“Masyarakat masih enggan kembali ke rumah karena masih ada gempa susulan,” kata Esrom.
Untuk memenuhi kebutuhan pengungsi, pihak gereja bersama majelis jemaat telah menyalurkan bantuan awal berupa makanan dan kebutuhan pokok. Bantuan tambahan juga dikirim dari Sinode GPM di Ambon sebesar Rp25 juta yang digunakan untuk membeli logistik seperti beras, telur, mi instan, minyak goreng, dan air mineral.
Di sisi lain, pemerintah daerah melalui BPBD dan instansi terkait telah menyalurkan bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan terpal hingga dini hari.
Esrom mengapresiasi respons cepat pemerintah, namun berharap dukungan terus berlanjut, termasuk layanan pemulihan psikologis bagi warga.
“Kami berharap ada perhatian berkelanjutan, termasuk trauma healing dan perbaikan fasilitas umum seperti gereja dan rumah warga,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihak gereja siap berkolaborasi dengan pemerintah dalam penanganan dampak bencana, termasuk pendataan korban dan distribusi bantuan.
Hingga kini, proses pendataan kerusakan masih berlangsung di Mayau dan Tifure untuk memastikan seluruh warga terdampak dapat tertangani. (Rifal)