Next Post

Klaim Ahli Waris, Pulau Tomahu Jadi Rebutan

95CAF13C-868A-426E-BC05-1A15AA48E880

BURU, ISTANAFM – Warga masyarakat di wilayah Regehensaf Fogi di Kecamatan Kepala Madan Kabupaten Buru Selatan saat ini merasa tidak aman dan nyaman.

Pasalnya ada Baliho larangan untuk tidak melakukan aktifitas apapun juga tanpa sepengetahuan ahli Waris dari marga Hokomina, Besugi dan Nustelu, yang dimainkan oleh oknum- oknum yang tidak memahami latar belakang sejarah berdirinya Kerajaan Fogi (Regehensaf Fogi).

Kondisi inilah yang membuat Raja Fogi Jamal Soel angkat bicara dan meluruskan masalah pencaplokan Pulau Tomahu oleh beberapa marga tersebut.

Raja Fogi Jamal Apel dalam siaran Persnya melalui Telepon kepada wartawan Istanafm.com Minggu (23/7/2023) menjelaskan sekilas rekam jejak sejarah singkat Tujuh Petuanan di Pulau Buru dan satu di Pulau Ambalau yang dipimpin para Raja-Raja yang masih terus terpelihara hingga kini, dan anak cucu, yang selalu menjaga dan merawat Adat Istiadat sesuai dengan karakteristik daerahnya masing-masing.

Ditambahkan, tujuh Petuanan yang dimaksud adalah Petuanan Kayeli (Raja Kayeli) Petuanan Tagalisa (Raja Tagalisa), Petuanan Liliali (Raja Liliali), Petuanan Leisela (Raja Leisela), Petuanan Waesama (Raja Waesama) Petuanan Masarete (Raja Masarete) Petuanan Regehensaf Fogi) Raja Fogi dan Raja Ambalau.

Dari delapan Kerajaan Besar yang ada di Pulau Buru, tujuh Petuanan berada di Tanah Besar (Pulau Buru) dan satu di Kerajaan di Pulau Ambalau.

Dari tujuh petuanan tersebut yang berada di pulau Buru, empat Petuanan berada diwilayah Kabupaten Buru, dan tiga Petuanan berada diwilayah Kabupaten Buru Selatan.

“Rekam jejak Kerajaan-Kerajaan besar yang ada di Pulau Buru sejak dulu kala, dengan masing-masing wilayah kekuasaannya yang diakui Negara tanpa harus ada pencaplokan wilayah Kerajaan lain dengan menggunakan dalil apapun juga,”tegasnya.

Dijelaskan pula, pada tahun 1500 Masehi kedatangan para Raja-Raja ke Pulau Buru untuk membagi wilayah Pulau ke dalam delapan Kerajaan, tujuh Kerajaan berada di Pulau Buru dan satunya di Pulau Ambalau.

Ditambahkan, pusat pertemuan para Raja dalam membagi wilayah Pulau Buru, dan Pulau Tomahu menjadi pusat pertemuan para Raja disaat itu, dan dari hasil kesepakatan lara Raja dalam membagi wilayah Pulau Buru menjadi Tujuh Petuanan dengan batasannya masing-masing, maka Wilayah Regehensaf Fogi arah Selatan Berada di Kota Waemala tempo dulu sekarang Desa Waemala, bagian Utara berbatasan dengan Kerajaan Leisela batasannya berada di Desa Waekase. Marga-marga yang mengatasnamakan ahli waris sebagaimana yang tertera pada Baliho Pemalangan itu tidak berada dalam wilayah Kekuasaan Raja Fogi tegas Bapak Jamall Soel.

Lanjut Raja Fogi, pada tahun 1700 hingga 1800 Masehi Sri Sultan Ternate memerintahkan rakyatnya yang berasal dari wilayah Tobelo dan Galela untuk pergi kepulau Buru guna mengamankan para Perompak yang sering meresahkan masyarakat di wilayah Pulau Buru termasuk di Pulau Seram.

 

Sri Sultan Ternate juga melalui Idin Kolano (Surat dari Kesultanan Ternate) ditujukan kepada Raja Fogi agar menjaga dan memelihari rakyatnya dari Moloku Kieraha yang notabenenya adalah orang Tobelo Galela.

Sejarah telah membuktikan, kebun kelapa milik orang Togale masih berdiri kokoh di Pulau Tomahu, dan Pusara para Leluhur Togale masih tetap terpelihara di Kampung Lama Biloro yang saat ini dibangun Pos Angkatan Laut (Posal).

Lanjut Raja Fogi, pengklaim hak kepemilikan atas Pulau Tomahu ini sangat tidak rasional dan ini adalah merupakan upaya untuk menjatuhkan wibawa Kerajaan Regehensaf Fogi dan Raja itu sendiri.

Karena dalam catatan Sejarah, saat wilayah ini berkecamuk oleh para Perompak marga-marga yang mengklaim bahwa Pulau Tomahu adalah milik mereka, itu tidak diketahui dimana rimbahnya.

Para juanga dengan Kora-Kora dari utara dan berhasil mengusir perompak di laut Buru dan para Penjajah disaat itu mereka menetap hingga anak cucunya.

“Mereka hidup berdampingan diwilayah Kerajaan Regehensaf Fogi, tanpa ada perbedaan Etnis, Suku maupun Agama. Karena moto Marimoi Ngone Futuru yang dilandasi Adat Seatorang yang mereka pegang teguh dari Tanah kelahirannya tetap dijaga dimanapun mereka berada,” Kata Raja Fogi mengakhiri komentarnya. (Jaja on).

 

 

Editor: Team

Reporter: Fajarudin Limau

ISTANA FM

ISTANA FM

Related posts

Newsletter

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

ban11