Next Post

Komunitas HWP Kenalkan Konservasi Fauna Endemik kepada Siswa SMP

f9367a59-cd07-4ecf-a133-b155ae1b582b

Ternate – istanafm.com. Puluhan siswa SMP Negeri 13 Kota Ternate mengikuti pelatihan dasar konservasi dan fotografi keanekaragaman hayati (kehati) di Pulau Tareba, Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, Kamis, 30 Juli 2026.

Kegiatan ini bertujuan mengenalkan satwa endemik sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian lingkungan.

Pelatihan diselenggarakan oleh komunitas Halmahera Wildlife Photography (HWP) sebagai bagian dari Program Kemitraan Wallacea bertajuk Konservasi Endemik Berbasis Tapak: Aksi Komunitas di Takome yang didukung Burung Indonesia dan Packard Foundation.

Selama pelatihan, para siswa memperoleh materi mengenai fauna endemik Pulau Ternate, ancaman kepunahan, rantai makanan dalam ekosistem, serta pentingnya peran generasi muda dalam upaya konservasi. Peserta juga dibekali etika dan teknik dasar fotografi keanekaragaman hayati menggunakan telepon genggam.

Setelah sesi teori, para siswa diajak mempraktikkan langsung teknik fotografi di lapangan dengan mendokumentasikan berbagai satwa yang dijumpai di kawasan Pulau Tareba. Panitia juga mengukur peningkatan pemahaman peserta melalui pre-test dan post-test.

Guru SMP Negeri 13 Kota Ternate, Nurdin Dengo, mengatakan pelibatan siswa dalam kegiatan konservasi menjadi penting mengingat masih maraknya perburuan satwa endemik, termasuk kuskus mata biru (Phalanger matabiru), di wilayah tersebut.

Menurut dia, sebagian besar peserta merupakan warga Kelurahan Takome yang hidup berdampingan dengan habitat satwa endemik. Karena itu, pendidikan konservasi sejak dini dinilai penting agar mereka memiliki kesadaran untuk menjaga, melindungi, dan mendokumentasikan kekayaan hayati di daerahnya.

“Pelestarian lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati di Pulau Tareba perlu terus ditingkatkan dengan melibatkan para siswa agar mereka memahami pentingnya menjaga fauna endemik,” kata Nurdin.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sehingga upaya pelestarian lingkungan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Penanggung jawab kegiatan, Apriyanto Latukau, mengatakan pendekatan konservasi melalui fotografi dipilih agar siswa tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga mampu mengenali langsung satwa dan habitatnya.

“Fotografi bukan sekadar menghasilkan gambar, tetapi menjadi cara agar siswa mengenal dan memahami biodiversitas yang ada di Pulau Tareba,” ujarnya.

Menurut Apriyanto, kemampuan fotografi peserta disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka. Ke depan, keterampilan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi media dokumentasi sekaligus promosi keanekaragaman hayati Pulau Tareba.

Ketua Halmahera Wildlife Photography, Dewi Ayu Anindita, mengatakan pendidikan lingkungan sejak usia sekolah menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kelestarian satwa dan ekosistem lokal.

Melalui pendekatan edukasi berbasis tapak dan media fotografi, kata dia, siswa dan guru diharapkan memiliki rasa kepemilikan terhadap lingkungan sekaligus menjadi agen perubahan dalam upaya konservasi di Kelurahan Takome.

Selain itu, HWP juga mendorong para guru mengintegrasikan materi keanekaragaman hayati ke dalam pembelajaran muatan lokal maupun kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

“Kami berharap kegiatan ini melahirkan generasi muda yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian satwa endemik dan ekosistem lokal dari berbagai ancaman kerusakan lingkungan,” kata Dewi. (Rifal)

ISTANA FM

ISTANA FM

Related posts

Newsletter

Jangan sampai ketinggalan informasi! Masukkan email Anda dan dapatkan update atas setiap berita terbaru di Istana FM!

ban11