Next Post

Nama Kampung di Ternate Simpan Jejak Sejarah dan Kosmologi

5d227f0f-2ce9-4ea8-9379-3885853d33ec

Ternate – istanafm.com. Nama sejumlah kampung di Kota Ternate menyimpan jejak sejarah, kebudayaan, migrasi, hingga pandangan filosofis masyarakat masa lalu. Jejak itu ditelusuri dalam diskusi sekaligus peluncuran buku karya Rafli Marwan yang mengangkat asal-usul nama kampung di Kota Ternate.

Rafli mengatakan penulisan buku tersebut merupakan upaya mendokumentasikan kembali makna di balik nama kampung yang selama ini diwariskan melalui tradisi lisan. Namun, proses penelusuran tidak mudah karena sebagian informasi terikat foso se boboso atau pantangan dan batasan tertentu dalam masyarakat.

Menurut Rafli, sejumlah narasumber memiliki pengetahuan mendalam mengenai cerita asal-usul suatu tempat, tetapi tidak seluruh informasi dapat ditulis karena mempertimbangkan nilai dan konsekuensi sosial di dalam komunitas. Ia mencontohkan kisah Tabanga yang berkaitan dengan kekuasaan, kepemimpinan, serta relasi laki-laki dan perempuan.

Selain pantangan, keterbatasan narasumber menjadi kendala lain. Sebagian penutur hanya menguasai potongan cerita, sementara mereka yang mengetahui kisah secara lebih utuh terkadang memilih tidak mengungkapkannya.

“Kadang narasumber hanya tahu setengah-setengah. Kalau hanya tahu setengah, cerita itu bisa berumur pendek,” ujar Rafli dalam diskusi yang berlangsung di Cengkeh Caffe, Benteng Oranje pada Sabtu malam, 5 September 2026.

Dalam penelitiannya, Rafli menggunakan pendekatan toponimi untuk menelusuri asal-usul dan makna penamaan tempat. Menurut dia, nama kampung di Ternate tidak muncul secara kebetulan. Penamaan dapat berkaitan dengan tokoh, kondisi ekologis, karakter wilayah, maupun keberadaan kelompok masyarakat tertentu.

Narasumber lainnya, Rinto Taib, mengatakan penamaan tempat di Ternate juga berkaitan dengan kosmologi, filsafat, dan pandangan teologis masyarakat terdahulu. Menurut dia, leluhur tidak sekadar memberi nama sebuah wilayah, tetapi membaca lingkungan dan kehidupan melalui simbol serta pengalaman.

Istilah seperti Makiye ipoto, mabanga irubu, dan ma Ake iruwa ma bolehu i ahu menggambarkan hubungan manusia dengan alam, kesuburan, keberlimpahan, dan ruang kehidupan.

Sementara itu, Soekarno M. Adam menilai buku Rafli merupakan pintu masuk untuk penelitian yang lebih luas mengenai sejarah dan identitas kampung di Ternate. Ia menyebut masih ada sejumlah wilayah yang perlu ditelusuri, termasuk Duba-Duba, serta nama tempat seperti Facei, Faudu, Mangon, Falau, dan Sulamadaha yang diduga berkaitan dengan keberadaan masyarakat Sula pada masa lalu.

Soekarno mengatakan kuatnya tradisi lisan membuat dokumentasi sejarah Ternate menjadi mendesak. “Takutnya para penutur itu sudah habis, maka sejarah itu ikut habis,” ujarnya.

Menurut dia, buku tersebut dapat menjadi langkah awal mengubah ingatan kolektif yang diwariskan secara lisan menjadi dokumentasi tertulis sehingga sejarah, identitas, dan pengetahuan masyarakat kampung di Ternate dapat ditelusuri oleh generasi berikutnya. (Rifal)

ISTANA FM

ISTANA FM

Related posts

Newsletter

Jangan sampai ketinggalan informasi! Masukkan email Anda dan dapatkan update atas setiap berita terbaru di Istana FM!

ban11