Next Post

Trans Kie Raha dan Transmigrasi Lokal, Strategi ISNU Atasi Ketimpangan

cf6835dc-b4de-4b52-9fee-079926c29d19

Ternate – istanafm.com. Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Provinsi Maluku Utara, Mukhtar Adam, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan Jalan Trans Kie Raha. Proyek strategis tersebut dinilai tidak hanya memperkuat konektivitas antarwilayah, tetapi juga membuka ruang pemerataan sosial dan ekonomi di Maluku Utara.

Mukhtar menilai jalan bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan sumber kehidupan yang harus diisi oleh masyarakat lokal. Karena itu, ISNU menginisiasi gagasan agar pembangunan Jalan Trans Kie Raha dibarengi dengan program transmigrasi lokal bagi warga Maluku Utara.

“Jalan itu adalah sumber kehidupan. Maka jalan yang dibangun negara harus diisi oleh warga Maluku Utara sendiri,” kata Mukhtar kepada Istana FM usai rapat koordinasi ISNU di Muara Hotel, Ternate, Senin, 15 Desember 2025.

Menurut Mukhtar, selama ini terjadi pemusatan ekonomi yang timpang di Maluku Utara. Sekitar 75 persen perputaran ekonomi provinsi itu terpusat di Pulau Halmahera, sementara sebagian besar penduduk tinggal di pulau-pulau kecil. Kondisi ini, kata dia, membuat masyarakat tidak merasakan dampak pertumbuhan ekonomi secara merata.

“Ekonominya besar di Halmahera, tapi penduduknya banyak di pulau-pulau kecil. Akibatnya, kita tidak menikmati pertumbuhan. Di sisi lain, Maluku Utara justru menjadi provinsi rawan pangan,” ujarnya.

ISNU mendorong agar Jalan Trans Kie Raha menjadi tulang punggung pengembangan kawasan transmigrasi lokal yang memberi ruang aktivitas ekonomi baru bagi warga pulau-pulau kecil. Transmigrasi ini, kata Mukhtar, tidak mendatangkan penduduk dari luar daerah, melainkan memindahkan warga lokal ke wilayah-wilayah potensial di sepanjang jalur jalan.

“Ini bukan transmigrasi orang Jawa. Ini transmigrasi orang Maluku Utara sendiri, agar mereka menjadi pemain di negeri sendiri,” katanya.

Mukhtar juga menekankan pentingnya melibatkan komunitas adat, khususnya masyarakat Tobelo Dalam, dalam skema pembangunan tersebut. Menurut dia, kelompok adat kerap tersisih akibat ekspansi tambang dan kehilangan ruang hidup.

“Mereka harus menjadi bagian penting dari skenario ini. Hidup bersama, berinteraksi, tanpa kehilangan identitas. Ini lebih memanusiakan manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, transmigrasi lokal di sepanjang Jalan Trans Kie Raha dirancang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pertanian modern dan mekanisasi. ISNU bahkan telah menyiapkan sekitar 250 orang sebagai calon peserta pilot project.

“Kami ingin melahirkan petani modern—cerdas, bermartabat, dan sejahtera. Ekosistemnya didesain sejak awal,” kata Mukhtar.

Gagasan tersebut, kata dia, telah disampaikan kepada Gubernur Maluku Utara dan akan didalami bersama Wakil Gubernur pada 17 Desember 2025. ISNU juga berencana menggelar diskusi meja bundar dengan Menteri Transmigrasi pada akhir Desember untuk mendorong realisasi program tersebut.

Mukhtar berharap pilot project transmigrasi lokal dapat mulai berjalan pada 2026, seiring pembangunan infrastruktur dasar dan permukiman. Skema yang ditawarkan bersifat partisipatif, dengan penempatan warga disesuaikan minat dan potensi masing-masing.

“Tidak ada paksaan. Tapi harus ada komitmen. Kalau tidak dimanfaatkan, bisa digantikan orang lain. Di situ akan tumbuh kompetisi sehat dan harapan hidup yang lebih baik,” ujarnya. (Rifal)

ISTANA FM

ISTANA FM

Related posts

Newsletter

Jangan sampai ketinggalan informasi! Masukkan email Anda dan dapatkan update atas setiap berita terbaru di Istana FM!

ban11