Ternate – istanafm.com. Perum Bulog Cabang Ternate berencana menambah gudang penyimpanan beras di tujuh kabupaten/kota di Provinsi Maluku Utara. Penambahan gudang ini ditujukan untuk mempermudah distribusi beras sekaligus memperkuat peran negara dalam menjaga stabilitas pangan.
Kepala Perum Bulog Cabang Ternate, Jefry Tanasy, mengatakan rencana pembangunan gudang tersebut telah diusulkan ke pemerintah pusat. Selama ini, Bulog Cabang Ternate hanya ditopang dua kompleks pergudangan, masing-masing berada di Kota Ternate dan di Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara.
“Kondisi itu tentu belum cukup untuk menjangkau seluruh wilayah Maluku Utara. Negara harus hadir dalam memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan, terutama untuk stabilisasi harga beras dan antisipasi kondisi bencana alam,” kata Jefry kepada Istana FM saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 18 Desember 2025.
Menurut dia, Maluku Utara mendapat tambahan tujuh kompleks pergudangan yang direncanakan mulai dibangun pada 2026. Gudang-gudang tersebut akan tersebar di Kabupaten Pulau Taliabu, Kepulauan Sula, Pulau Morotai, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, dan Halmahera Barat. “Alhamdulillah, tujuh pergudangan ini direncanakan bisa dibangun dan diharapkan sudah beroperasi pada 2026,” ujarnya.
Namun, pembangunan gudang tersebut mensyaratkan dukungan pemerintah daerah, khususnya terkait penyediaan dan hibah lahan. Jefry menjelaskan, setelah proses hibah lahan selesai, Bulog baru dapat membangun infrastruktur pergudangan di lokasi yang telah ditetapkan.
Ia menyebutkan, ketujuh pemerintah kabupaten yang menjadi lokasi rencana pembangunan gudang juga harus merespons positif. “Mereka dapat menyurat ke Bulog dan menyatakan bersedia menyiapkan lahan, lengkap dengan titik koordinat, lokasi, dan luas area. Kami tinggal menunggu proses administrasi lanjutan hingga hibah lahannya tuntas,” kata Jefry.
Dengan penambahan gudang tersebut, Jefry berharap distribusi beras di Maluku Utara semakin merata, waktu penyaluran lebih singkat, serta kemampuan daerah dalam menghadapi gejolak harga dan kondisi darurat pangan. (Rifal)