Ternate – istanafm.com. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) di Maluku Utara sebesar 3,95 persen pada Juli 2026. Angka itu berdasarkan Berita Resmi Statistik Nomor 38/08/82/Th. XXV yang dirilis pada Senin, 3 Agustus 2026.
BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Maluku Utara pada Juli 2026 mencapai 114,99. Inflasi tahunan tersebut lebih rendah dibandingkan Juni 2026 yang berada di level 5,05 persen.
Di dua wilayah yang menjadi cakupan penghitungan IHK Maluku Utara, Kota Ternate mencatat inflasi tertinggi, yakni 4,35 persen dengan IHK 115,61.
Sementara itu, Kabupaten Halmahera Tengah mengalami inflasi sebesar 2,12 persen dengan IHK 112,15.
Secara bulanan, harga-harga konsumen di Maluku Utara justru mengalami penurunan. BPS mencatat deflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,67 persen pada Juli 2026.
Kondisi tersebut berbeda dengan perkembangan harga secara kumulatif sepanjang tahun. Tingkat inflasi year to date (y-to-d), atau pergerakan harga sejak Desember 2025 hingga Juli 2026, mencapai 4,46 persen.
Jika melihat kelompok pengeluaran, penyumbang inflasi tahunan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 1,34 persen. Berikutnya kelompok transportasi sebesar 1,33 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,44 persen, sedangkan penyediaan makanan dan minuman atau restoran menyumbang 0,37 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,26 persen. Sementara pakaian dan alas kaki menyumbang 0,07 persen.
Adapun kelompok kesehatan memiliki andil 0,04 persen, pendidikan 0,02 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan dan rekreasi, olahraga dan budaya masing-masing 0,01 persen.
Pergerakan inflasi Maluku Utara dalam satu setengah tahun terakhir menunjukkan fluktuasi cukup tajam. Inflasi tahunan sempat mencapai 5,85 persen pada Februari 2026, sebelum turun menjadi 2,56 persen pada Maret dan kembali meningkat hingga 5,05 persen pada Juni.
Pada Juli, inflasi tahunan kembali turun menjadi 3,95 persen.
Data BPS tersebut menunjukkan penurunan tekanan harga secara tahunan pada Juli, meski inflasi kumulatif sepanjang 2026 masih mencapai 4,46 persen.
Pemerintah daerah dan pengendali inflasi daerah perlu mencermati terutama pergerakan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau serta transportasi yang menjadi dua kelompok dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Maluku Utara. (Rifal)