Next Post

Komunitas Save Ake Gaale Desak Pemkot Ternate Tetapkan Kawasan Sumber Air sebagai RTH

df637577-0b29-41fc-a954-60ac041e8788

Ternate — istanafm.com. Komunitas Save Ake Gaale mendesak Pemerintah Kota Ternate dan Direktur Utama Perumda Ake Gaale mempercepat revitalisasi kawasan sumber air Ake Gaale di Kelurahan Sangaji, Kecamatan Ternate Utara.

Mereka meminta kawasan sumber air tersebut ditetapkan dan ditata sebagai ruang terbuka hijau untuk menjaga keberlanjutan sumber air sekaligus mengembangkan potensi wisata.

Ketua Save Ake Gaale, Alwan M. Arif, menyampaikan desakan itu setelah mengikuti Ritual Ake Ma Sou 2026 di kawasan sumber Ake Gaale, di samping Benteng Toloko, Kota Ternate, pada 3 Agustus 2026.

Menurut Alwan, kondisi sumber air Ake Gaale masih menghadapi ancaman pencemaran dan kerusakan kawasan resapan. Upaya revitalisasi yang pernah dilakukan bersama USAID melalui program riset kerentanan mata air selama lima tahun, kata dia, telah menghasilkan sejumlah rekomendasi yang disampaikan kepada Pemerintah Kota Ternate.

Namun, implementasi rekomendasi tersebut belum berjalan maksimal.

Salah satu rekomendasi riset adalah pembangunan 1.000 sumber resapan di kawasan tangkapan air atau catchment area Ake Gaale. Hingga kini, baru sekitar 200 unit yang terealisasi.

“Artinya masih jauh dari target. Kalau 1.000 sumber resapan dibangun, debit air bisa meningkat sampai lebih dari 200 liter per detik di sumber Ake Gaale,” kata Alwan.

Menurut dia, hasil riset tersebut tidak hanya relevan untuk Ake Gaale. Metode yang sama dapat diterapkan di sejumlah sumber air lain di Kota Ternate. Karena itu, Alwan meminta kebijakan konservasi sumber air tidak berhenti pada penelitian, tetapi dilanjutkan dalam bentuk program konkret.

Selain persoalan resapan, riset USAID juga menemukan ancaman pencemaran air tanah dari sistem sanitasi masyarakat. Salah satu rekomendasinya adalah penggunaan septic tank kedap.

Alwan mengatakan sebagian masyarakat masih menggunakan septic tank resapan yang berpotensi menyebabkan kebocoran dan mencemari air tanah. Program konversi septic tank resapan menjadi septic tank kedap telah dilakukan di Kelurahan Sangaji melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Namun, pelaksanaannya belum mencakup seluruh warga.

“Masih banyak septic tank yang belum kita konversi,” ujarnya.

Save Ake Gaale juga mendorong kawasan sumber air tersebut ditetapkan sebagai ruang terbuka hijau. Menurut Alwan, status RTH akan memudahkan pemerintah mengarahkan program perlindungan dan penataan kawasan.

“Selama statusnya tidak menjadi ruang terbuka hijau, agak sulit kita mengimplementasikan program yang bersumber dari bantuan pemerintah,” kata dia.

Penataan kawasan, menurut Alwan, tidak hanya bermanfaat untuk menjaga sumber air. Ake Gaale juga dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata karena berada bersebelahan dengan Benteng Toloko.

Ia menilai keberadaan sumber air dan benteng bersejarah tersebut semestinya dikembangkan sebagai satu kawasan wisata dan konservasi.

“Benteng ini seperti berjalan sendiri. Padahal di bawahnya ada sumber air,” ujarnya.

Menurut cerita turun-temurun masyarakat setempat, keberadaan sumber air menjadi salah satu alasan pemilihan lokasi pembangunan benteng tersebut. Karena itu, menjaga Ake Gaale juga berarti menjaga bagian dari sejarah kawasan Benteng Toloko.

Alwan mengatakan kondisi sumber air Ake Gaale hingga kini masih bertahan. Namun, keberlanjutannya membutuhkan perlindungan kawasan secara serius.

Ia juga mengingatkan bahwa sistem sumber air di Ternate saling berkaitan. Menjaga kawasan Ake Gaale dinilai dapat berdampak terhadap keberlanjutan sumber air lain yang terhubung.

Ritual untuk Menghidupkan Kearifan Lokal

Ritual Ake Ma Sou, kata Alwan, bukan sekadar kegiatan budaya tahunan. Ritual tersebut menjadi cara komunitas menghidupkan kembali kearifan lokal dalam menjaga sumber air.

Ia mengatakan masyarakat terdahulu memiliki aturan yang ketat terhadap sumber air. Air tidak boleh dikotori dengan sampah, diludahi, maupun digunakan untuk buang air.

“Warisan orang tua itu yang harus kami jaga,” kata Alwan.

Menurut dia, prinsip tersebut relevan diterapkan saat ini ketika sejumlah kawasan resapan dan ruang retensi di Kota Ternate justru menjadi tempat pembuangan sampah.

Jika kearifan lokal kembali diterapkan, kata Alwan, masyarakat akan memiliki kesadaran untuk menjaga sumber air tanpa harus selalu menunggu intervensi pemerintah.

Ritual Ake Ma Sou tidak secara khusus digelar karena musim kemarau. Save Ake Gaale berupaya mempertahankan tradisi tersebut setiap tahun, baik saat musim kemarau maupun musim penghujan.

Alwan mengatakan Save Ake Gaale juga pernah menjadi objek penelitian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta mengenai hubungan kearifan lokal, ajaran agama, dan aktivisme lingkungan.

Menurut dia, peneliti datang langsung ke kawasan Ake Gaale untuk melihat upaya masyarakat dalam menjaga sumber air dan konservasi air tanah.

Minta Jadi Agenda Pemerintah

Save Ake Gaale berharap Ritual Ake Ma Sou dapat menjadi agenda pemerintah daerah dan masuk dalam program Dinas Kebudayaan Kota Ternate. Menurut Alwan, ritual tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu dipertahankan.

Ia juga meminta pemerintah menyusun program penataan seluruh kawasan sumber air di Kota Ternate, tidak hanya Ake Gaale. Danau Ngade dan kawasan sumber air lainnya, kata dia, perlu dipersiapkan sejak sekarang.

“Kalau tidak, kita akan menyaksikan generasi kita menikmati hasil yang tidak baik,” ujarnya.

Alwan mengatakan upaya konservasi sumber air membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, pengelola sumber air, komunitas, dan masyarakat.

Menurut dia, sumber air bukan sekadar infrastruktur penyedia air bersih, melainkan bagian dari ekosistem dan warisan yang harus dipertahankan untuk generasi berikutnya. (Rifal)

ISTANA FM

ISTANA FM

Related posts

Newsletter

Jangan sampai ketinggalan informasi! Masukkan email Anda dan dapatkan update atas setiap berita terbaru di Istana FM!

ban11