Halut — istanafm.com. Ruang publik Halmahera Utara diguncang beredarnya tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diduga melibatkan anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, Aksandri Kitong. Dalam percakapan itu, muncul pernyataan bernada provokatif seperti “baku bunuh” dan “supaya dong tau bahwa tong me siap”.
Sejumlah organisasi mahasiswa dan kepemudaan mengecam keras pernyataan tersebut. Mereka menilai, ucapan bernuansa kekerasan dari seorang pejabat publik berpotensi memicu konflik horizontal, terutama di tengah masyarakat Maluku Utara yang majemuk.
Ketua Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Halmahera Utara, Ryan Arianto Siori, mengatakan pernyataan itu mencerminkan kemunduran etika politik yang tidak bisa ditoleransi.
“Ini bukan sekadar salah ucap. Ini adalah cerminan krisis kesadaran seorang pejabat publik. Ketika kekuasaan berbicara dengan bahasa kekerasan, maka rakyat sedang dihadapkan pada ancaman nyata. Demokrasi tidak dibangun di atas intimidasi,” kata Ryan, Senin, 30 Maret 2026.
Ia menilai, kasus tersebut harus diproses serius, tidak berhenti pada klarifikasi formal semata. Menurut dia, penegakan etik dan hukum perlu dilakukan secara tegas dan transparan tanpa kompromi.
Ryan juga mendesak partai politik yang menaungi legislator tersebut agar tidak bersikap permisif terhadap perilaku yang dinilai mencoreng integritas lembaga perwakilan rakyat.
Menurut dia, pejabat publik bukan sekadar jabatan administratif, melainkan representasi nilai dan teladan bagi masyarakat. Karena itu, penggunaan narasi kekerasan, bahkan dalam ruang komunikasi internal, patut dipersoalkan.
LMND Halmahera Utara juga mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tetap tenang namun kritis menyikapi persoalan tersebut. “Jangan terprovokasi, tetapi juga jangan diam,” ujar Ryan.
Ia menegaskan, demokrasi membutuhkan keberanian untuk bersuara sekaligus kedewasaan dalam menjaga persatuan. “Jika bahasa kekuasaan berubah menjadi ancaman, maka rakyat harus mengingatkan bahwa kekuasaan lahir dari kepercayaan, bukan ketakutan,” kata dia. (Rifal)