Next Post

Much. Hidayah Minta Pemkot Benahi Perencanaan Infrastruktur di Kawasan Rawan Longsor

93fe3eee-4ee2-4d7d-82f1-012334bdc8b3

Ternate – istanafm.com. Ketua Forum Koordinasi Daerah Aliran Sungai Maluku Kie Raha (FKDAS MKR), Much. Hidayah Marasabessy, menilai longsor yang memutus jalan lingkar Pulau Hiri bukan semata dipicu curah hujan tinggi, melainkan juga akibat lemahnya perencanaan pembangunan infrastruktur di kawasan rawan bencana.

Menurut Hidayah, pembangunan jalan di kawasan vulkanik harus didasarkan pada kajian geologi dan hidrologi yang memadai. Tanpa itu, kerusakan serupa akan terus berulang.

“Yang paling utama sebenarnya adalah perencanaannya. Jalan harus dibangun berdasarkan kajian yang benar,” kata Hidayah kepada Istana FM, Senin, 27 Juli 2026.

Ia mencontohkan jalan lingkar Pulau Hiri yang dibangun menutup alur sungai musiman atau barangka tanpa dilengkapi jembatan maupun gorong-gorong. Saat hujan deras melanda pada Maret 2025, aliran air menghantam badan jalan hingga akhirnya putus.

Menurut Hidayah, persoalan serupa juga terlihat pada pembangunan jalan di kawasan Ngade yang berada di lereng tebing.

“Bayangkan jalan dibangun tepat di tebing. Ketika hujan besar, longsor pasti terjadi,” ujarnya.

Ia juga mengkritik penggunaan konstruksi beton pada sejumlah titik rawan longsor. Menurut dia, kawasan dengan karakter tanah vulkanik memerlukan fondasi yang lebih kuat, seperti tiang pancang, agar mampu menahan pergerakan lereng.

Hidayah menjelaskan Pulau Hiri tersusun atas material vulkanik berupa tufa, breksi, pasir, dan batuan piroklastik yang mudah lapuk. Material tersebut memiliki pori-pori besar sehingga cepat menyerap air hujan.

Ketika jenuh air, daya ikat tanah melemah dan lapisan tanah gembur mudah bergeser di atas batuan yang lebih keras sehingga memicu longsor.

“Curah hujan memang menjadi pemicu, tetapi penyebab utamanya adalah karakter material vulkanik yang tidak diantisipasi dalam perencanaan pembangunan,” katanya.

Ia mengungkapkan tim FKDAS MKR sebenarnya telah melakukan survei terhadap alur lava Gunung Hiri sejak Agustus 2024. Kajian itu menemukan sejumlah potensi bencana hidrometeorologi, termasuk pada embung yang dibangun tanpa saluran pembuangan (outlet) serta pembukaan jalan yang mengubah alur air alami.

Hidayah menekankan pemerintah menjadikan kejadian di Pulau Hiri sebagai bahan evaluasi dalam setiap pembangunan infrastruktur di wilayah vulkanik Kota Ternate.

“Kalau perencanaannya tidak dibenahi, kejadian seperti di Hiri, Ngade, bahkan Sulamadaha akan terus berulang setiap musim hujan,” kata Hidayah. (Rifal)

ISTANA FM

ISTANA FM

Related posts

Newsletter

Jangan sampai ketinggalan informasi! Masukkan email Anda dan dapatkan update atas setiap berita terbaru di Istana FM!

ban11