Ternate — istanafm.com. Maraknya penjualan tiket kapal laut secara ilegal melalui media sosial masih menjadi tantangan bagi PT Pelni Cabang Ternate. Pelaku memanfaatkan WhatsApp, Instagram, Facebook hingga TikTok untuk menawarkan tiket kepada calon penumpang.
Kepala Cabang Pelni Kota Ternate, Amin Amrulloh, mengatakan perusahaan terus berupaya mempersempit ruang gerak calo dengan memperbanyak akses pembelian tiket melalui kanal resmi dan platform digital.
Menurut Amin, masyarakat kini dapat membeli tiket secara daring melalui sejumlah kanal yang telah disediakan Pelni. Digitalisasi, kata dia, diharapkan membuat calon penumpang tidak lagi bergantung kepada pihak ketiga.
“Kami juga berkomitmen bahwasannya terkait dengan adanya pergerakan calo ini, kami batasi dengan semakin mempermudah masyarakat untuk bisa mengakses pembelian tiket dengan platform-platform digital tersebut,” kata Amin saat ditemui Istana FM di ruang kerjanya, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia berharap masyarakat memanfaatkan kanal digital resmi karena tiket yang dibeli melalui saluran tersebut dapat dipastikan keasliannya. Harga tiket juga mengikuti tarif yang telah ditetapkan perusahaan.
“Jadi kami juga berharap mudah-mudahan masyarakat sendiri itu lebih menggunakan platform digital tersebut. Dari sisi keaslian pasti sudah asli. Terus dari sisi harga, pasti lebih murah karena sesuai dengan harga yang kita tetapkan,” ujarnya.
Amin mengatakan pembelian tiket melalui calo menyulitkan perusahaan dalam memastikan keaslian transaksi. Untuk meminimalkan praktik tersebut, Pelni menerapkan pembelian tiket menggunakan kartu tanda penduduk atau identitas calon penumpang.
“Tidak seperti ketika beli di calo. Kadang-kadang kita agak susah juga mendeteksi calo itu dia calo atau bukan. Nah, makanya yang bisa kami minimalisir, kami buat untuk meminimalisir itu, pembelian tiket itu dengan KTP, identitas,” katanya.
Pelni juga berkoordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan atau KSOP Ternate untuk menangani praktik percaloan tiket. Amin mengatakan pihak KSOP memahami persoalan tersebut dan mendorong agar praktik itu dapat dikurangi.
Salah satu langkah yang dibahas adalah pemeriksaan tiket dan identitas calon penumpang sebelum proses boarding. Amin mengatakan mekanisme tersebut sebenarnya telah diterapkan Pelni, namun edukasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Dan itu memang sebetulnya sudah kami laksanakan. Tinggal edukasi terhadap masyarakat yang harus kita lakukan terus-menerus,” ujarnya.
Menurut Amin, upaya tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk media. Ia berharap media ikut mengedukasi masyarakat agar membeli tiket melalui loket atau kanal digital resmi Pelni.
Amin mengatakan digitalisasi juga memudahkan masyarakat dari wilayah kepulauan. Calon penumpang tidak harus datang ke loket hanya untuk mengatur jadwal dan melakukan pembayaran. Setelah transaksi selesai, mereka memperoleh kode booking yang dapat digunakan dalam proses keberangkatan.
“Kalau kita punya platform, misalnya DANA, itu lebih mudah. Tinggal atur jadwal, terus sampai ke pembayaran, klik selesai. Nanti kita sudah punya kode booking,” katanya.
Kemudahan tersebut dinilai penting bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil di Maluku Utara. Amin mengatakan calon penumpang tidak perlu datang ke pelabuhan hanya untuk membeli tiket, terutama ketika menghadapi antrean panjang.
“Apalagi masyarakat yang di pulau-pulau kecil. Kalau saya lihat ini kan di sini banyak pulau-pulau kecil,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membeli tiket dari akun atau nomor pribadi yang menawarkan tiket melalui media sosial. Pelni, kata Amin, tidak menjadikan WhatsApp, Facebook, Instagram maupun TikTok sebagai kanal penjualan tiket resmi.
“Jangan pernah tertipu dengan penjualan tiket yang melalui Facebook atau WA yang tidak jelas. Karena itu bukan channel penjualan kami,” katanya.
Amin menyebut sejumlah kanal resmi yang dapat digunakan masyarakat untuk membeli tiket Pelni, antara lain Pelni Mobile, situs resmi Pelni, serta sejumlah mitra penjualan seperti bank, Indomaret, Alfamart dan DANA.
“Penjualan kami jelas, selain bank-bank, di Indomaret, Alfamart, DANA, Pelni Mobile sendiri, atau di website-nya Pelni. Jadi tidak ada kami menjual via WA, Facebook, IG, atau TikTok,” ujarnya.
Ia meminta calon penumpang memastikan tiket dibeli melalui kanal resmi. Selain untuk menghindari penipuan, tiket resmi memberikan kepastian hak penumpang selama menggunakan layanan kapal Pelni.
“Naik kapal itu sudah seharusnya pakai tiket, karena ada hak-hak yang nanti akan diberikan jika terjadi sesuatu,” kata Amin.
Pelni berharap masyarakat semakin waspada terhadap tawaran tiket murah atau penjualan tiket melalui akun media sosial yang tidak dapat dipastikan legalitasnya. Amin menegaskan pembelian melalui kanal resmi menjadi cara paling aman untuk menghindari penipuan dan praktik percaloan. (Rifal)