Ternate – istanafm.com. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Front Perjuangan untuk Demokrasi menggelar aksi memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day di Kota Ternate, Jumat, 1 Mei 2026. Aksi berlangsung di depan kediaman Gubernur Maluku Utara dan Kantor Wali Kota Ternate.
Dalam aksi tersebut, massa membentangkan spanduk bertuliskan “Rakyat Bersatu; Lawan Kapitalisme, Imperialisme, Kembalikan Militerisme ke Barak dan Pabrik untuk Buruh.” Mereka juga menyampaikan sejumlah tuntutan terkait kondisi buruh dan kebijakan pemerintah.
Koordinator aksi, Yasir Ashari, menuturkan May Day merupakan momentum sejarah perjuangan kelas pekerja melawan sistem yang dinilai menindas. Ia menyebut sejak abad ke-19, buruh menghadapi berbagai persoalan seperti eksploitasi, jam kerja panjang, upah rendah, hingga represi negara.
“Perlawanan itu melahirkan tuntutan kolektif, seperti pembatasan jam kerja, perlindungan tenaga kerja, dan pengakuan hak-hak dasar buruh,” kata Yasir kepada Istana FM.
Menurut dia, kondisi buruh saat ini belum sepenuhnya terbebas dari tekanan. Ia menilai sistem ekonomi global masih memicu ketimpangan, termasuk meningkatnya pemutusan hubungan kerja, penurunan upah, serta memburuknya kondisi kerja akibat inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Di tingkat nasional, Yasir menyoroti meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja sepanjang 2025 yang disebut mencapai puluhan ribu buruh. Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan lemahnya sistem ketenagakerjaan dan minimnya perlindungan bagi pekerja.
Selain isu ketenagakerjaan, massa aksi juga menyoroti persoalan lingkungan dan ruang hidup masyarakat di Maluku Utara. Aktivitas industri tambang disebut berdampak pada kerusakan ekologi dan mengancam kehidupan petani serta nelayan.
“Ada perampasan ruang hidup dan kerusakan lingkungan yang belum ditangani serius. Sementara hak-hak dasar buruh, seperti jaminan kerja dan upah layak, juga belum terpenuhi,” ujarnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan, antara lain menghentikan kriminalisasi gerakan buruh dan tani, menyediakan layanan ambulans laut untuk wilayah Batang Dua, Hiri, dan Moti, serta menyelesaikan persoalan air bersih di Kota Ternate.
Mereka juga mendesak pemerintah menghentikan perampasan ruang hidup, menolak reklamasi di Maluku Utara, meningkatkan upah buruh, serta mewujudkan pendidikan gratis dan reforma agraria.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan. Hingga aksi berakhir, massa membubarkan diri secara tertib. (Rifal)