Ternate – istanafm.com. Sentral Mahasiswa Halmahera Barat (Sema-Habar) Ternate menyoroti perkembangan proyek panas bumi di Halmahera Barat. Organisasi mahasiswa itu mengaku khawatir aktivitas geothermal berpotensi memengaruhi kawasan sumber air dan destinasi wisata jika tidak diawasi secara ketat.
Ketua Umum Sema-Habar Ternate, Riwan Basir, mengatakan perhatian publik selama ini lebih banyak tertuju pada Ormat Technologies, Inc. yang memenangkan lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Talaga Rano. Namun, menurut dia, aktivitas panas bumi juga telah berlangsung di Desa Idamdehe, Kecamatan Jailolo.
Di wilayah tersebut, PT Geo Dipa Energi sedang melakukan pengeboran sumur injeksi sebagai bagian dari pengembangan pembangkit listrik panas bumi.
“Perusahaan juga sedang memasang pipa dari kawasan mata air Desa Lako Akediri menuju lokasi proyek. Jalurnya berada di sekitar kawasan wisata Pantai Lako Akediri,” kata Riwan kepada Istana FM, Jumat, 24 Juli 2026.
Menurut Riwan, keberadaan pipa tersebut memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai fungsi dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
“Perusahaan menyampaikan pipa itu hanya untuk mengalirkan air. Tetapi masyarakat tetap bertanya-tanya. Jangan sampai nanti limbah industri geothermal justru dialirkan melalui jalur itu ke Kali Lako Akediri,” ujarnya.
Ketua Advokasi Sema-Habar Ternate, Brans, mengatakan hasil penelusuran organisasinya menunjukkan aliran air dari kawasan tersebut terhubung dengan lokasi yang selama ini dimanfaatkan masyarakat maupun wisatawan.
Ia mengatakan warga khawatir operasional panas bumi nantinya berdampak terhadap kenyamanan kawasan wisata Pantai Idamdehe dan Pantai Lako Akediri.
“Air yang melewati Desa Lako Akediri juga terhubung dengan kawasan penampungan di jalur menuju Pantai Idamdehe. Masyarakat khawatir nanti kawasan wisata tidak lagi nyaman dikunjungi ketika aktivitas perusahaan berjalan,” katanya.
Riwan menilai pemerintah perlu membuka ruang pengembangan energi terbarukan lain yang dinilai lebih ramah lingkungan.
Menurut dia, Halmahera Barat memiliki potensi energi surya dan mikrohidro yang dapat dikembangkan dalam skala komunitas.
“Kenapa pemerintah tidak lebih serius mendorong PLTS atau mikrohidro? Sama-sama energi terbarukan, tetapi dampaknya terhadap lingkungan dinilai lebih kecil,” ujarnya.
Ia menegaskan pembangunan sektor energi tetap menjaga keberlangsungan hidup masyarakat adat Wayoli dan Sahu serta tidak mengorbankan kawasan wisata maupun sumber daya alam Halmahera Barat. (Rifal)