Ternate – istanafm.com. Aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Babullah, Ternate, Maluku Utara, mulai berangsur pulih pada Sabtu, 17 Oktober 2026, setelah lima hari terganggu kabut asap tebal yang menurunkan jarak pandang.
Sejumlah maskapai, di antaranya Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, dan Lion Air, mulai kembali melayani penerbangan menuju dan dari Ternate. Namun, kelancaran operasional masih bergantung pada kondisi cuaca dan jarak pandang di sekitar bandara.
“Garuda tadi juga masuk, Sriwijaya dan Lion Air sudah bisa landing dan terbang,” kata seorang petugas bandara yang meminta namanya tidak disebutkan saat dikonfirmasi Istana FM, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Ia mengatakan penerbangan dijadwalkan kembali berlangsung pada Minggu, 18 Oktober 2026. Meski demikian, operasional pesawat tetap menyesuaikan kondisi cuaca.
Dikutip dari RRI Ternate, pesawat Garuda Indonesia dari Jakarta kembali mendarat di Bandara Sultan Babullah pada Sabtu pukul 10.51 Waktu Indonesia Timur (WIT). Kedatangan itu terlambat dari jadwal normal sekitar pukul 07.00 WIT karena pesawat sempat dialihkan ke Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado.
Branch Manager Garuda Indonesia Ternate, Alam Rafly, mengatakan penerbangan dari Jakarta berlangsung normal. Namun, penurunan jarak pandang secara tiba-tiba membuat pesawat tidak dapat langsung mendarat di Ternate.
“Terbang dari Jakarta normal, harusnya landing di jam 7 tadi. Hanya karena tiba-tiba jarak pandang menurun, jadinya divert dulu ke Manado,” ujar Alam, seperti dikutip dari RRI Ternate, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Alam berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga penerbangan kembali beroperasi secara normal. Menurut dia, gangguan tersebut berdampak pada jadwal perjalanan penumpang, termasuk memicu penumpukan penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
Perubahan jadwal juga berpotensi mengganggu agenda penumpang yang hendak bepergian ke Maluku Utara.
“Alhamdulillah, Garuda sudah landing kembali di Ternate. Semoga cuaca terus membaik,” kata Alam.
Gangguan penerbangan di Bandara Sultan Babullah sebelumnya terjadi akibat kabut asap yang menurunkan jarak pandang. Kondisi tersebut memaksa sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan hingga pengalihan pendaratan ke bandara lain.
Meski sejumlah maskapai mulai kembali beroperasi, pemulihan penerbangan sepenuhnya masih bergantung pada perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang di sekitar Bandara Sultan Babullah. (Rifal)