Ternate – istanafm.com. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas II Sultan Babullah Ternate memperingatkan potensi angin kencang dan gelombang sedang di sejumlah wilayah Maluku Utara pada 18-24 September 2026.
Prakirawan BMKG Ternate, Dhea Widyasista, mengatakan kecepatan angin di wilayah Maluku Utara berkisar 5-20 knot atau sekitar 9-37 kilometer per jam. Kondisi tersebut dipengaruhi pusat tekanan rendah yang cukup kuat di wilayah utara Papua.
“Faktor lainnya yang menyebabkan kecepatan angin di Malut meningkat karena atmosfer yang cukup kering turut berdampak pada peningkatan kecepatan angin di wilayah Malut,” kata Dhea kepada Istana FM beberapa hari lalu.
Menurut Dhea, kondisi angin kencang dan atmosfer yang kering berpotensi memperluas kebakaran hutan dan lahan. Hembusan angin dapat membuat api dan percikan bara menyebar lebih cepat ke kawasan hutan atau lahan kering.
BMKG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama di sekitar kawasan yang ditumbuhi semak kering.
“Kami minta masyarakat untuk mencegah terjadinya karhutla dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun melakukan pembakaran sampah tanpa pengawasan, terutama di dekat area semak kering. Sebab, kecepatan angin bisa memperbesar areal kebakaran hutan,” ujarnya.
Selain angin, BMKG memantau ketinggian gelombang di sejumlah perairan Maluku Utara yang berkisar 0,5-2 meter atau kategori sedang.
Wilayah yang berpotensi mengalami gelombang tersebut meliputi Samudra Pasifik Utara Halmahera, Perairan Morotai, Loloda, Halmahera Barat, Batang Dua, Ternate, Timur Halmahera, Gebe, Barat Bacan, Obi, Mangole, Sanana, dan Taliabu.
Dhea mengingatkan masyarakat pesisir dan nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi laut. Perahu nelayan berukuran kecil dinilai rentan terhadap angin dengan kecepatan di atas 15 knot dan gelombang lebih dari 1,25 meter.
“Nelayan perlu menunda melaut jika cuaca memburuk dan selalu menyiapkan alat keselamatan,” tuturnya.
BMKG juga meminta pemerintah daerah dan masyarakat mewaspadai dampak cuaca tersebut, terutama potensi meluasnya kebakaran hutan dan lahan serta kecelakaan laut.
“Semua pihak, terutama pemerintah, harus siaga dan waspada,” kata Dhea. (Rifal)